SELAMAT DATANG, KAMERAD BOM CERPEN

LOGO 2

Salam sastra, Para Kamerad.

Selamat datang di BOM Cerpen.

Situs ini dibuat dengan kesadaran penuh dan semangat membara untuk meledakkan bom-bom kreativitas melalui media cerpen. Untuk mengetahui visi dan misi BOM Cerpen, silakan kunjungi halaman TENTANG BOM CERPEN.

Peraturan untuk membaca cerpen bisa dibaca di PERATURAN PEMBACA. Untuk mengirimkan cerpen dan menjadi kontributor, silakan membaca PERATURAN KARYA terlebih dahulu.

MOHON BACA PERATURAN-PERATURAN TERSEBUT TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA ATAU MENGIRIM CERPEN.

Untuk mengenal siapa saja dewan/administrator/pengurus BOM Cerpen, klik DEWAN BOM CERPEN. Para kontributor karya bisa dilihat di KONTRIBUTOR KARYA. Program-program BOM Cerpen dan informasi-informasi yang akan di-update secara rutin bisa dilihat di PROGRAM DAN INFORMASI. Untuk menghubungi kami, silakan klik KONTAK.

Terakhir, namun juga terpenting, untuk membaca cerpen-cerpen di sini, silakan klik BOM-BOM CERPEN. Aksi apapun yang bertentangan dengan PERATURAN PEMBACA dalam website ini akan ditindaklanjuti, baik pembaca sudah membaca peraturan-peraturan tersebut ataupun belum.

Terima kasih telah mengunjungi situs kami. Selamat membaca, selamat menikmati, selamat berkarya!

 

MARI BERGABUNG MENJADI LEDAKAN GENERASI SASTRA INDONESIA!

DEWAN BOM CERPEN

CATATAN: Selain BOM-BOM CERPEN, terdapat juga cerpen-cerpen PERCIKAN API, yaitu cerpen-cerpen yang ikut serta dalam lomba penulisan cerpen Percikan Api, terdiri dari cerpen-cerpen yang telah lolos seleksi Tahap I dan cerpen-cerpen yang masuk ke Tahap Grand Final.

Tagged

PADAM (Nikita Ariestyanti)

Aksara. Malam ini ayah merangkai aksara lalu menuturkannya dengan lembut di sela-sela kantukku. Di sela-sela kata ‘tidurlah!’ yang dia ucapkan padaku, dia bercerita tentang suku pengendali api.

“Mereka berasal dari mana, Yah?” tanyaku pelan.

“Dari sini,” jawabnya sambil menunjuk dadaku. Baca selengkapnya di sini

Tagged , ,

PENTAS HUJAN (Mustika Anisa)

“Kenapa sih kamu suka hujan?”

“Karena.. hujan menenggelamkan kita, dalam cumbu yang hangat.”

“Ngacok!” gumamku dalam hati. Ini yang tidak aku suka darinya, mencampur nafsu dengan romantisme hujan yang puitis, yang gamang di telingaku yang kritis. Bagiku bukan hujan yang menenggelamkan kita dalam cumbu, tetapi nafsu menggebu yang menyeret dengan candu. Baca selengkapnya di sini

Tagged , ,

PERCIKAN API: HANGUS (Aang Kunaefi)

Cerpen Grand Final lomba PERCIKAN API.

_____________________________________________________________________________________________

Api kecil menyala membakar ranting-ranting kayu kosambi1) yang belum sepenuhnya kering. Asap mengepul dari tungku2) yang terbuat dari susunan batu bata merah, memenuhi dinding-dinding dapur Tohari yang terbuat dari anyaman pohon bambu. Beberapa putung rokok terlihat tercecer di lantai dapur yang hanya terbuat dari timbunan tanah, mulut Tohari terus mengeluarkan asap rokok sembari matanya tertuju ke arah Rumini yang sedari pagi-pagi buta sibuk menyiapkan sarapan mulai dari menggoreng tempe hingga meniup api tungku agar tetap menyala. Rumini dinikahinya ketika masih berumur 18 tahun, terhitung 23 tahun Tohari mengarungi bahtera pernikahan dengan Rumini. Dari pernikahannya, kini mereka mempunya tiga orang keturunan. Parno, anak pertama mereka meninggal ketika masih bayi, kematian bayi jamak terjadi di desa tempat Tohari tinggal yang jauh dari akses layanan kesehatan, bahkan puskesmas pun belum tersedia di desanya. Sedangkan Robi, anak kedua mereka, saat ini sedang menempuh pendidikan sederajat SMA di salah satu pesantren di luar kota, ini tahun ke tiga Robi menuntut ilmu di pesantren itu. Terakhir Aryati, anak bungsu mereka, masih duduk di bangku SD. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: NOSTALGIA (Abi Ardianda)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Sepatu hak Nona menghentak. Roknya menjuntai meraba ubin, terseret sepanjang lantai rumah susun usang yang berada di ujung jalan besar. Selain bau muntah yang tidak dibersihkan di sepanjang koridor -kebiasaan orang sepulang mabuk-, sekumpulan bocah dengan luka kudis yang main kejar-kejaran juga menghirup wangi cologne Nona beraromakan melati. Paras elok Nona membuat banyak paras lain susah untuk tidak menengok, terlebih, Nona memang selalu ramah pada siapa saja. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: MAIN API (Amalia Putri Astari)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Di Jakarta, Indonesia, ada genangan air di pusat kotanya dan perahu karet yang lalu lalang mengevakuasi orang-orang yang kebanjiran. Di Damaskus, Suriah, perang saudara tak kunjung usai dan ledakan bom terus menghujani tiap sudut kota. Di Washington DC, Amerika, Presiden terpilih Amerika Barack Obama dilantik dan diambil sumpahnya di Gedung Putih. Di Boras, Swedia, seorang wanita paruh baya diadili karena melempar sosis khas Swedia, Falukorv, ke tetangganya setelah cek-cok mulut dengannya. Di sini, di rumah ibuku, ada pria yang menangis tersedu-sedu, memohon maaf dariku. Pria ini sudah hampir dua jam duduk di ruang tamu dengan tangan yang menutupi setengah dari wajahnya, dia kelihatan sangat menyesal. Dibalut kemeja lengan panjang biru polos dengan lambang merk buaya di sakunya dia terlihat tampan seperti biasa. Tapi kali ini rambut ikal yang biasanya disisir rapih itu terlihat acak-acakan. Dia sepertinya lupa mengoleskan gel rambut hari ini. Sepatu Buccheri hitam yang dikenakannya tampak kontras dengan lantai rumah ibu yang sudah usang. Tangannya sesekali meraih tangganku tapi dengan cepat aku menolaknya. Pernikahan kita sudah berjalan selama duapuluh tahun dan kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang usianya sudah menginjak remaja. Selama duapuluh tahun itu juga kami menjalani kehidupan yang tidak sepenuhnya menyenangkan. Adu pendapat karena masalah sepele kerap kami alami dan sifat kami yang sama-sama keras kepala membuat masalah sepele itu justru semakin parah. Tapi kali ini masalah yang kami hadapi bukan lagi masalah sepele, kali ini masalahnya sangat besar dan aku pastikan kalau aku tidak akan memberikan maaf barang secuilpun padanya. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: PEMELIHARA API (Anton Kurniawan)

Cerpen Grand Final lomba PERCIKAN API.

_____________________________________________________________________________________________

Batujajar, Januari 1998.

“Tidaklah kembali pulang… Pasti pulang… Sebelum kita yang menang… Pasti menang…”

Suara lantang rekan-rekan sejawat yang membuatku masih sanggup melangkahkan kaki di pelatihan ini. Tidak mudah memang. Berat bahkan. Tapi semua kulakukan demi dia. Dia yang pernah menantangku dengan sebuah angan. Angan yang buatku tiba di tempat ini. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: KEBENARAN TAK BISA DIBUNGKAM (Badru Alwahdi)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. – Soe Hok Gie –

Hadi bersandar di kursi kerjanya. Matanya menatap layar monitor  di hadapannya dengan tatapan kosong. Jari kanannya mengetuk-ngetuk meja, mouse dibiarkannya tergeletak. Sesekali kakinya menghentak-hentak lantai, ada emosi yang meletup-letup tapi enggan dia lepaskan. Pikirannya jauh melayang, melewati batas monitor dan batas realitas di hadapannya. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: KUPU-KUPU API (Destriyana)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Dulu, Kakek sempat bercerita tentang legenda kupu-kupu api. Kawanan kupu-kupu kecil dengan warna merah menyala. Semerah warna api yang menyalak. Konon, apa pun yang dihinggapi kupu-kupu api seketika akan terbakar. Ludes, tanpa bekas. Entah betulan atau cuma bualan Kakek. Toh, aku tetap percaya. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: API MINGGU PAGI (Endah Aibara)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Pagi ini cerah. Langit bersih tanpa awan berarti, hanya beberapa gumpalan tipis menggantung di atas sana. Udara sejuk mendukungku untuk terus memanja bersama alam. Entah mengapa pagi ini aku ingin sekali merasakan terik matahari. Mungkin memang biasanya cerah, hanya saja aku tak tahu. Mungkin. Baca selengkapnya di sini

Tagged ,

PERCIKAN API: SURAT DARI JAUH (Imamul Muttaqin)

Suka cerpen ini? Silakan dukung dengan melakukan voting di bawah post ini!

_____________________________________________________________________________________________

Hallo, Nayla. Bagaimana kabarmu? Aneh rasanya jika beberapa tahun tak saling sapa tiba-tiba kau mendapat surat dari seseorang yang mungkin sudah tak ada di dalam ingatanmu. Ini aku, Bram, teman sekaligus orang yang pernah jatuh cinta kepadamu. Kita bertemu terakhir kali sepuluh tahun yang lalu saat mengantarkanmu ke bandara. Saat itu kau memutuskan pergi ke Singapura demi pendidikanmu. Selain rindu, ada beberapa alasan yang membuatku mengirimkan surat ini untukmu, salah satunya aku ingin menceritakan sebuah lukisan aneh yang membuat geger kampungku. Sebuah lukisan yang terkadang menyala seperti nyala api neraka. Boleh kuceritakan sekarang? Aku berjanji akan  menceritakannya pelan-pelan. Begini ceritanya… Baca selengkapnya di sini

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,132 other followers